Tanggapan Debat Riba Bunga Bank




Beberapa saat yang lalu, beredar posting perdebatan dua tokoh yang membahas mengenai riba dan bunga bank. Versi lengkapnya dapat dibaca disini



Saya tidak tertarik untuk menulis kesimpulan atau ulasan singkat mengenai perdebatan dua tokoh tersebut, yaitu MUN’IM SIRRY dan AHMAD IFHAM SHOLIHIN yang membahas tentang definisi riba. Toh sampai saat ini perdebatan tokoh masih terus terjadi. Pemahaman masyarakat muslim-pun masih berbeda mengenai bunga bank. Sebagian masih menganggapnya bukan riba, sehingga merasa aman dari dosa riba meski menggunakan bank konvensional sebagai sarana investasi dan mengambil pendapatan bunga.

Sebagian masyarakat lain ikut pendapat haramnya riba. Mereka berusaha menghindari transaksi keuangan di bank konvensional, memiliki rekening bank Syariah adalah seperti kewajiban. Sebuah upaya untuk meningkatkan market share perbanksan Syariah secara signifikan. Namun sbegaian yang lain, menganggap bahwa tidak ada bank yang lepas dari transaksi ribawi, sehingga menghindari semua transaksi dengan bank. Mereka menganggap sama saja bank Syariah dengan bank konvensional, hanya beda istilah saja. Padahal, beda istilah mengakibatkan perbedaan pada konsekuensi dan banyak hal lainnya, kan?

Bayangkan saja jika zina dianggap sama dengan nikah. Yang membedakannya adalah istilah, konsekuensi perbedaan istilah tersebut tentu ada pada akad, tanggung jawab, kejelasan nasab atas keturunan, dan sebagainya. Kalau zina tidak boleh diistilahkan sama dengan nikah, apakah Syariah boleh disamakan begitu saja dengan konvensional/ non Syariah? Tentu tidak.

Masyarakat luas harusnya lebih cerdas dalam membaca ulasan. Sehingga jelas kebenaran seperti apa yang layak diterima. Pendapat berdasarkan rujukan dari mana yang layak dibenarkan. Untuk kemudian, tentu harus konsisten dengan akibat dari persetujuan atas pendapat terbaik berdasarkan landasan yang kuat.

Orang bisa saja menerima bahwa bunga bank adalah sama dengan riba. Namun menjadi tidak konsisten ketika masih memiliki rekening di bank konvensional. Hal ini berarti, masih mendukung dan menjadi pelaku ribawi. Lalu apa gunanya pemahaman yang sudah diyakini?

Atau bisa juga berdalih, bahwa kepemilikan rekening bank konvensional adalah sebuah keterpaksaan. Keadaanlah yang memaksa demikian. Transfer gaji yang wajib melalui bank konvensional tertentu, misalnya. Hal ini selayaknya tidak menjadi halangan untuk konsisten dengan keputusan meninggalkan riba dalam bunga. Jalan yang bisa ditempuh diantaranya adalah langsung memindahkan sepenuh gaji yang masuk di rekening konvensional ke rekening bank Syariah. Apakah mereka, bahkan anda para pembaca, punya nyali sedemikian berani?

Lalu sebutan apa yang layak bagi mereka yang memahami, meyakini keharaman riba dalam bunga bank, namun tetap bergeming untuk menikmati, bahkan sengaja menumpuk investasi agar hartanya berbunga-bunga tanpa peduli lagi pada dosa?


Comments

Popular posts from this blog

Khilafiyah Hukum E Money