Hutang Dulu Atau Makan Dulu?


Dalam kondisi tertentu, manusia hidup tidak bisa lepas dari utang. Entah untuk usaha, atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ketika kebutuhan hidup terasa mendesak, utang memang bisa dan bisa menjadi solusi paling memungkinkan untuk diambil. Meskipun mendapat orang yang mau meminjamkan uang tidak selalu mudah. Orang-orang cenderung mendatangi kerabat, keluarga, teman dekat, untuk meminta pertolongan ketika keadaan semakin mendesak.

Salahkah? Tentu tidak. Transaksi utang-piutang sudah dilakukan oleh masyarakat jauh sebelum manusia mengenal tata negara. Mungkin karena pada dasarnya manusia memiliki naluri sosial untuk saling menolong, sehingga transaksi utang-piutang timbul. Meskipun, sejarah membuktikan bahwa transaksi tersebut tidak gratis. Ya, ada harga yang harus dibayar oleh utang-piutang.

Roda kehidupan tentu berputar. Pada saat tertentu orang yang berada dalam posisi bawah menikmati posisinya di atas. Begitu pula sebaliknya. Dalam hal ini belum ada satupun teori yang mampu mengungkap berapa lama setiap fase roda kehidupan tersebut berputar dari bawah ke atas, atau dari atas ke bawah. Ada mekanisme tak kasat mata yang dijalankan oleh invisible hand menurut teori Adam Smith. Pembahasan yang tidak perlu dituntaskan, setidaknya untuk saat ini.

Ketika sudah mampu untuk membayar utang, seseorang bisa jadi dihadapkan pada pilihan: membayar utang, tapi tidak makan. Atau menunda pembayaran utang, karena uang yang ada bisa digunakan untuk makan? Saya setuju, pada titik ini seseorang yang berutang tersebut belum benar-benar pencapai posisi puncak roda kehidupan.

Bagaimanapun, membayar utang adalah kewajiban orang yang memiliki utang. Ketika jatuh tempo masa pembayaran, maka harus diutamakan pembayaran utang tersebut di atas kebutuhan lain. Hal ini sangat berpengaruh pada kepercayaan, dan keteguhan memegang janji. Orang yang layak dipercaya salah satunya adalah menepati janji. BEtapa tinggi harga diri untuk satu hal ini.

Namun jika dalam kondisi tersebut ada kebutuhan lain yang lebih mendesak untuk dipenuhi, kewajiban untuk membayar utang perlu dipertimbangkan kembali. Hal ini bukan dalam rangka melegalkan cidera janji, namun sebagai wujud penjagaan atas diri. Prioritas pertama yang harus dijaga dalam hidup ini adalah keselamatan jiwa.

Jika mampu membayar utang namun terkendala tidak bisa makan setelahnya, maka kewajiban pemilik utang adalah mendahulukan kebutuhan akan makanan daripada membayar utang. Akan rumit urusannya jika tetap mengutamakan membayar utang, sementara perut keroncongan. Drama utang piutang akan kembali terulang jika tidak ada alternatif sumber makanan yang dapat dinantikan dalam waktu dekat, bukan?

Comments

Popular posts from this blog

Khilafiyah Hukum E Money